[4] Full Stop | truwita

req.fullstop

Full Stop by truwita

[EXO] Park Chanyeol, Oh Sehun, and [OC] Kim Jira
Genres Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort
Length Chapter | Rating PG-15
Preview[0][1][2][3]

“Mari kita buat masa depan yang tak akan kalah dari masa lalu.”
-Yano Motoharu (Boku Ga Ita)

Dari pagi, Chanyeol terlihat lesu dan muram. Seolah ia tak memiliki niat dan energi lagi untuk menjalani hidup. Meski begitu, ia selalu berusaha tersenyum dan bersikap ceria seperti biasa. Hanya saja, sorot matanya tak pernah bisa berbohong.

Hatinya tengah terguncang. Ia tak bisa berpikir dengan lurus. Maka dari itu, Chanyeol lebih memilih untuk menjadi pengecut dan meghindar. Bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi. Mungkin bukan jalan yang dibenarkan tapi setidaknya ini cukup baik. Lelaki itu perlu waktu sampai ia benar-benar siap menghadapinya.

Baekhyun tak pernah bertanya apapun. Walau ia tahu, Chanyeol tidak sedang baik-baik saja. Terkdang, ada masalah yang tak ingin dibagi dengan siapapun, kan? Jadi, Baekhyun berusaha meredam keingintahuannya. Suatu saat, jika Chanyeol ingin atau perlu bantuannya, ia pasti bicara. Tugasnya hanya sebagai pendamping di sini, pemeran pendukung yang tak boleh terlalu dalam ikut campur.

Game center?” Baekhyun melingkarkan lengannya di leher Chanyeol. Si empunya berbalik dan tersenyum lebar. “Yuhuu!” Mereka berjalan sambil berisik. Bukan rahasia lagi, jika keduanya sudah bersama, berisik adalah hal yang paling sederhana yang dilakukan keduanya.

“Oh! Kim Jira!” Baekhyun menepuk mulutnya sendiri. Ia reflek menunjuk dan menyebut nama gadis itu saat matanya menangkap sosok Jira, membuat Chanyeol ikut menoleh. Harusnya Baekhyun pura-pura tak lihat dan membawa Chanyeol menjauh. Sekarang ia merasa bersalah dan yakin bahwa kesedihan yang nampak di mata Yeol berasal dari gadis itu. Tapi bagaimanapun, Jira adalah gadis yang dicintai sahabatnya. Ia tak bisa berbuat banyak.

Selama beberapa sekon, Chanyeol hanya diam sambil menatap Jira. Sebelum akhirnya menghela napas dan menyuruh Baekhyun untuk menunggu di gerbang.

***

“Jira!” Chanyeol melambai dan tersenyum.

Gadis itu menoleh, tampak terkejut ketika beradu pandang dengan Chanyeol. “Oh. H-hai, Yeol.”

“Mau pulang?”

“Emm, ya. Tapi aku punya sedikit urusan dengan…anggota OSIS.”

“Sehun ya?”

“Eh?”

“Kau punya urusan dengan Sehun kan?”

“Yeol—”

“Aku akan pergi ke game center dengan Baekhyun. Kita janjian di kedai es krim biasa jam 4, oke? sampai nanti.”

Jira menghembuskan napas. Chanyeol bahkan tak menunggu persetujuannya. Lelaki itu langsung berlari pergi. Dan… hey, apa nama Sehun tertulis di wajahnya? Jira bertanya-tanya dalam hati.

Kemudian perasaan tak nyaman itu kembali. Perasaan yang membuatnya tak bisa tidur semalaman. Melihat sikap Chanyeol yang masih seperti biasa, sangat mengganggunya. Jira mengeluarkan sebuah ponsel dari saku seragam. Itu ponsel Chanyeol yang kemarin tergeletak begitu saja di koridor. “Bukankah seharusnya kau marah dan minta penjelasanku?”

***

Sehun tengah sibuk dengan komputer di hadapannya ketika Jira datang dan menyerahkan tumpukan kertas yang berisi laporan akhir dari setiap bidang.

“Aku sudah menyusunnya. Kau hanya perlu membaca dan membubuhkan tanda tangan.” Sehun tak menjawab, tapi ia menoleh. Menatap lamat-lamat wajah Jira sebelum akhirnya si empunya berpaling.

“Aku pergi. Jika sudah selesai letakan saja di mejaku.”

Setelah banyak hal terjadi, berada dalam satu ruangan dengan Sehun membuat Jira tak nyaman. Gadis itu bergegas pergi setelah urusannya dirasa selesai. Tapi Sehun bicara, membuat langkahnya terhenti sejenak. “Kau pucat. Tak perlu memikirkan laporan lagi. Aku akan menyelesaikannya sendiri. Beristirahatlah.”

“Aku baik-baik saja. Aku akan mengerjakan bagianku.”

“Aku tak suka dibantah dan Aku sudah memutuskan.”

Jira berbalik. Menatap Sehun dengan kening berkerut.

“Aku akan bicara dengan Chanyeol.”

“Jangan libatkan Chanyeol. Jangan siapapun lagi.” Jira berkata setengah membentak. “Harus berapa kali kukatakan? Kita sudah berakhir!”

Sehun mengalihkan pandangan. “Aku tak pernah berpikir seperti itu. Tak akan pernah setelah kau menerima ciumanku kemarin.”

***

Arloji di tangan sudah menunjukkan pukul empat lewat dua puluh menit. Chanyeol masih menunggu di depan kedai eskrim bersama Baekhyun. Sebenarnya Chanyeol sudah mengusir Baekhyun sejak tadi, tapi lelaki itu tak mau beranjak. Katanya, mereka harus selalu bersama di setiap ada kesempatan. Uh, terdengar menjijikan memang. Akan tetapi, mengertilah. Dulu mereka itu duo jomblo sarap yang selalu bersama setiap saat. Dan delapan bulan terakhir, semenjak Chanyeol memutuskan untuk mengakhiri masa jomblonya, posisi Baekhyun mulai terganti jadi sosok gadis betulan.

“Kau sudah janji akan segera pergi setelah Jira datang!”

“Iya! Iya!” Baekhyun bersungut-sungut, Chanyeol bisa jadi sangat menyebalkan setelah punya pacar. Begitu pikirnya.

“Oh, Chanyeol-ssi? Benar! Chanyeol-ssi!” panggilan seseorang mengintrupsi. Membuat dua lelaki itu menoleh.

“Ji…ra?” Baekhyun melongo, pasalnya gadis itu berpenampilan sangat berbeda dari biasanya.

“Jina. Aku kim Jina. Kau tidak lupa, kan?”

Chanyeol berdehem dan menyikut lengan Baekhyun. “Tentu saja.” Chanyeol tersenyum. “Perkenalkan, ini Byun Baekhyun. Teman sekolahku. Dan Baek, ini Kim Jina, saudari Kim Jira.”

Ye?!” tanpa sadar, Baekhyun memekik keras. Jina tertawa melihat reaksi Baekyun yang agak berlebihan.

“Ah, maaf. Aku Baekhyun. Aku tidak tahu Jira punya saudari. Chanyeol tak pernah cerita. dan… kalian benar-benar mirip.”

“Aku juga baru tahu, Baek. Ngomong-ngomong mereka memang kembar, makanya mirip.” Chanyeol menimpali.

Ye?!” Baekhyun memekik dengan ekspresi kaget paling jelek yang pernah ada.

“Haha… Kau punya ekspresi lucu, Baekhyun-ssi dan… kau juga tampan!” Jina mengedipkan mata, menggoda si lelaki yang kini malu bukan main. Sebelumnya Baekhyun sudah sering dibilang lucu, tapi kalau dibilang tampan ia pikir ini kali pertama. Oleh karena itu ia benar-benar salah tingkah sekarang.

Daebak! Yeol kau dengar, kan? Kau dengar apa yang dia katakan? Dia bilang aku tampan! Ya ampun! Aku tahu, aku tahu.”

“Jina-ya, kenapa tidak langsung masuk? bukannya kau bilang mau eskrim?” seorang lelaki awal 40-an mengintrupsi, memanggil dari pintu masuk kedai.

“Ah ya, paman. Tunggu sebentar.”

“Bukannya itu Dokter Oh?”

“Baekhyun-ssi kenal Paman Oh?”

“Tidak begitu sih, aku hanya tahu dia dokter spesialis jantung. Dia dokter yang menangani nenekku. Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya sewaktu mengantar nenek check up. Dan kalau tidak salah, dia ayahnya Sehun, kan?”

“Kenal Sehun juga?”

“Kenal sih nggak. Dia ketua OSIS di sekolahku.”

“Ketua OSIS? Wah aku baru tahu.”

“Heem. Dan sedikit info lainnya, saudarimu Kim Jira adalah wakil ketuanya, loh.”

Ekspresi Chanyeol berubah tak nyaman ketika nama Sehun dan Jira disandingkan. Meski ia sudah mencoba untuk melupakan kejadian kemarin, tetap saja jika kedua nama itu disebut-sebut, hal pertama yang muncul di kepalanya adalah kejadian tak mengenakan kemarin.

“Wah, daebak! Saudara-saudaraku memang keren semua. Haha.”

“Saudara?” Chanyeol dan Baekhyun bertanya serempak.

“Oh iya. Memang belum resmi sih, tapi tak akan lama lagi, Sehun akan jadi saudaraku juga.”

***

Jira menggelengkan kepala untuk mengusir berbagai macam asumsi yang hinggap di kepala. Belum lagi perdebatannya dengan Sehun beberapa waktu lalu menambah beban pikirannya. Masalah datang dan bertambah rumit setiap saat.

Jira membuka pintu kedai diiringi sebuah dentingan lonceng, membuatnya menjadi pusat perhatian sesaat. “Oh, Kim Jira!” itu Jina, orang pertama yang menyadari kehadiran Jira diantara empat orang yang duduk mengelilingi meja. Chanyeol, Baekhyun dan Dokter Oh ikut menoleh, mendapati si gadis yang mematung di tempat.

Siapa yang tidak terkejut mendapati saudari, calon ayah tiri, pacar dan teman pacarnya duduk bersama dalam satu meja dan tampak berbincang dengan asyik, saling melempar guyonan satu sama lain. Terlebih, ekspresi Jina yang terlihat sangat bahagia dengan semburat merah muda di pipi pucatnya.

Jina bangkit, menghampiri dan menyeret Jira untuk bergabung. Jira tak bisa berkata-kata, hanya tersenyum dan membungkuk sekilas pada Dokter Oh.

“Sebuah kebetulan yang menyenangkan.” ujar Dokter Oh.

“Ah sebenarnya kami—”

“Kami berjanji akan mengerjakan tugas bersama di sini. Baekhyun yang memintaku.” Jira memotong ucapan Chanyeol cepat, menoleh pada Baekhyun untuk menyetujui pernyataannya. “Bukan begitu, Baek?”

Ye? Ah—” Baekhyun terkejut dengan atmosfir aneh yang tiba-tiba saja menyelubungi mereka. Melihat ekspresi wajah Jira yang tak seperti biasa membuat kebingungannya bertambah. Ia menoleh pada Chanyeol yang duduk di sampingnya, tapi lelaki itu tak membantu sama sekali. Sibuk memerhatikan gerak-gerik kekasihnya. Cepat-cepat Baekhyun mengangguk. “Tentu saja, begitu.”

“Ah, bukankah kehadiran kita akan mengganggu, Jina?” Dokter Oh bertanya, dan mendapati ekspresi kecewa gadis itu.

“Benarkah?” Jina bertanya pada Jira yang sibuk meremas jemarinya di bawah meja.

“Itu… emm—”

Dokter Oh melirik jam tangannya. “Kita juga harus segera kembali, Jina-ya. Kau berjanji tak akan pergi lama pada ibumu, bukan? Ia pasti sedang khawatir sekarang.”

“Ah, benar.” lagi lagi Jina menampakkan ekspresi kecewanya. “Padahal Jira baru saja datang dan aku harus segera pergi.”

Jina menatap Baekhyun, lalu beralih pada Chanyeol dan menatapnya sedikit lebih lama. “Apa kita bisa berbincang seperti ini lagi?”

Baekhyun yang tak mengerti situasi, bicara dengan nada ceria. “Kau itu bicara apa sih? Tentu saja! Kapanpun kau ingin berbincang denganku!”

Jina tersenyum, tapi Baekhyun rasa ada yang ganjil dengan senyumnya kali ini. “Baiklah!” gadis itu bangkit, merapihkan dress dan menyampirkan tas selempang di bahunya. “Sampai jumpa semua!” Jina kembali memasang wajah ceria, melambaikan tangan dan sebelum benar-benar pergi, ia berpesan pada Jira agar tak pulang terlalu larut.

***

Sepeninggalan Jina dan Dokter Oh, atmosfir yang ada semakin memburuk. Tak ada yang bicara, Jira masih tertunduk meremas jemari, sedangkan Chanyeol masih memerhatikan gerak-geriknya. Baekhyun mengeluh dalam hati karena ia harus berada di dalamnya. Ia pura-pura mengecek ponsel lalu berakting terkejut. “Oh! Aku harus segera pulang.”

Tak ada yang merespon. Baekhyun benar-benar jadi orang dungu di sini. Ia mendengus, mengumpat sejadi-jadinya di dalam hati. Baru saja ia membuka mulutnya hendak bicara, Chanyeol mendahului. “Jira, kau baik-baik saja?” tanyanya hati-hati.

Baekhyun mengurungkan niat, saat perlahan Jira mengangkat kepala dan menatap mereka dengan bola mata bergerak tak fokus. “Sesuatu terjadi?” Chanyeol menyentuh punggung tangannya.

Jira tak langsung menjawab, butuh beberapa saat untuknya mencerna pertanyaan Chanyeol.

“A-aku—” Jira menggeleng, dan mulai tersenyum tipis. Kali ini Jira tak cukup baik menyembunyikan perasaannya. Sudah jelas sekali gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Namun masih berusaha berakting dan hasilnya sudah bisa dipastikan; buruk.

Melihat keadaan, Baekhyun merasa seperti lalat yang bisa mengganggu kapan saja. Jadi ia putuskan untuk beranjak dan pergi meninggalkan keduanya. Menyikir sebelum didepak itu lebih baik. Chanyeol maupun Jira, butuh waktu untuk bicara tentang apa yang terjadi.

“Aku pergi dulu.” Baekhyun menepuk punggung Chanyeol dua kali lalu beranjak tanpa menunggu responnya. Lagi pula ia tak yakin akan mendapat respon.

Melihat Baekhyun pergi, Jira mengangkat tangan dan berniat untuk mencegah. Tapi Chanyeol meraih tangannya dan menggenggam sedikit lebih erat dari sebelumnya.

“Bicaralah sekarang. sesuatu menganggumu bukan?”

Chanyeol tak membiarkan Jira lengah sedikitpun. Lelaki itu memasang wajah paling serius yang ia punya. Terlihat menakutkan, mengingat Chanyeol belum pernah menampakkan wajah seperti itu sebelumnya.

“Apa kau baik-baik saja?” Jira memberanikan diri bertanya, meski sepasang matanya menolak untuk bersirobok.

Chanyeol mengerutkan kening, “Bukannya itu pertanyaan milikku?”

“Sekarang milikku.”

Chanyeol melepas tautan tangan mereka. Menghembuskan napas, dan memilah kata yang tepat untuk dilontarkan. Ia paham betul, Jira bukan seorang gadis yang suka mendengar basa-basi jika dalam mode serius seperti ini.

“Seperti yang kau lihat,” Chanyeol merentangkan kedua tangan. “Aku baik-baik saja.”

“Kau tahu betul maksudku.” Jira mengeluarkan sebuah ponsel.

“Oh! Ponselku! Aku pikir ia tak akan kembali.”

“Aku menemukannya kemarin di koridor belakang sekolah.” Jira masih menghindari kontak mata dengan Chanyeol. Sedangkan lelaki itu masih terlihat santai mengamati ponselnya. “Apa kau…” Jira menelan ludah, tak ada yang lebih sulit dari mengakui sebuah kesalahan. Dan Jira akhirnya mengakui kesalahan itu dalam hatinya. Ia tak seharusnya merasa terbuai kemarin dan melupakan fakta tentang Chanyeol. Ia benar-benar menyesal sekarang. Gadis itu tak bisa melanjutkan perkataannya, bahkan untuk menatap wajah Chanyeol saja rasanya tak mungkin.

“Melihatmu dengan Sehun?” Chanyeol melengkapi pertanyaan Jira. “Jika itu yang ingin kau tanyakan, aku melihatnya.” masih dengan santainya, Chanyeol berbicara. “Aku bahkan melihat dengan jelas kalian berciuman.”

Sesuatu seperti menohok jantung dan hati Jira. Bukan pada apa yang Chanyeol katakan, melainkan pada nada bicara dan ekspresi yang lelaki itu tampakan saat membahasnya. Sangat tenang, seolah itu bukanlah masalah besar. Apa benar laki-laki itu menyukainya? Jira mulai meragukannya sekarang.

“Kau tahu, dan kau masih bersikap seperti ini?” entah kenapa, Jira merasa kecewa dengan respon yang didapatnya. Ia membayangkan Chanyeol marah besar, memaki, menuduh yang tidak-tidak bahkan memintanya untuk mengakhiri hubungan. Tapi dari semua fantasinya, tak satupun yang terealisasikan. Ia malah mendapati Chanyeol yang sama.

“Lalu kau ingin aku bagaimana?”

Demi apapun, itu adalah kalimat yang paling ia benci di dunia ini. Kalimat yang paling tidak ingin didengarnya dari siapapun, terutama Chanyeol. Ia tahu persis kalimat apa itu. ia pernah mengatakannya sebelum ini. Sebuah kalimat putus asa yang menandakan bahwa Chanyeol sudah lelah. Apa itu artinya Chanyeol sudah menyerah? Jira berharap ia salah menafsirkannya.

“Chanyeol…” kedua mata Jira berkaca-kaca. Kali ia memberanikan diri menatap mata Chanyeol.

“Seharusnya kau melakukan itu sejak tadi, menatap mataku.” Chanyeol terseyum, membuat pikiran dan hati Jira tak menentu.

Lelaki itu meraih jemari si gadis, mengenggam dengan kedua tangan lalu mengecupnya. “Aku tak tahu apa yang terjadi di masa lalu, kau dan Sehun.”

“Aku juga tak pernah tahu masalah seperti apa yang kau hadapi selama ini.”

Chanyeol mengangkat tangan, menyelipkan anak rambut Jira ke belakang telinga, lalu menghapus air mata yang baru saja menetes di pipi si gadis. “Jangan menangis, kau sudah melakukan yang terbaik sampai saat ini.”

“Dengar, aku ingin sekali marah. Pria mana yang rela miliknya di sentuh orang lain? Jangan berpikir aku akan sebaik itu, Kim Jira.”

“Chanyeol—”

“Ssst…” Chanyeol menggeleng dan meletakan telunjuk di bibir Jira. Menolak kata-kata yang hendak gadis itu lontarkan. “Aku belum selesai bicara. Jangan memotong!”

“Aku akan menyimpan kemarahanku untuk kali ini. Kau sudah cukup menderita dengan masalah-masalahmu, aku tak ingin menambahnya.”

“Jadi, aku akan melupakannya dengan satu syarat.”

“Satu syarat?”

Chanyeol mengangguk. “Kau harus bersedia untuk membuat masa depan jauh lebih indah dan menyenangkan, masa depan yang tak akan kalah dari masa lalu, bersamaku.”

End of Part 4

Ahem, Chanyeol-Jira mana suaranyaaaaaaaaaa!
well, aku tahu ini lamaaaa banget.
dan pendek (aku tahu) gak seimbang buat kalian yang menantikannya, hehe
maapkan aku, aku bener-bener frustasi sama tugas-tugas dan kerjaan yang tumpang tindih. Mohon dimaklum, hehe (malah curhat /dibuang)
makasih buat yang udah baca sampe part ini,
dan makasih buat yang udah nunggu. (emang ada?/plak)
buat part selanjutnya aku gak bisa janjiin kapan.
aku bakal berusaha buat update secepatnya
(meski itu berarti 3 bulan/digilas)
RCL juseyooo!

Advertisements

4 responses to “[4] Full Stop | truwita

  1. chanyeol :’) aa.. galau banget bacanya

  2. Aaaaaa.. Gimana ni malah jadi senyum2 sendiri berasa denger chanyeol ngomong kek gitu..
    Author pinter banget nyari kutipannya.
    Tapi… Kok chapter ini pendek ya? Atau cm perasaan doang?
    Biarlah yg penting diupdate. Hehe.
    Keep writing thor ~
    Next-nya ditunggu loh.

  3. Lnjut dong min

  4. Heemmmm ko aku ikut sedih yaa 😦
    Semoga semuanya baik baik sajaaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s